#gambar1 { position:fixed; _position:absolute; top:0px; right:0px; clip:inherit; }

Wednesday, April 23, 2008

Latihan Untuk Menjadi Konselor

ini merupakan pengalaman saya ketika saya mendapatkan mata kuliah bimbingan konseling. saya dan teman-teman ditugaskan bagaimana latihan untuk menjadi konselor. pengalaman saya bisa teman-teman baca. Saya mempunyai klien yang bernama manda (bukan nama yang sebenarnya). Manda adalah seorang teman dekat saya, Manda yang saya kenal adalah sosok yang ceria. Walaupun dia mempunyai masalah dia selalu berusaha tampil ceria dihadapan kami semua, seakan-akan dia tidak mempunyai masalah. Tetapi, suatu hari saya mendapatkan Manda duduk termenung sendirian, entah kenapa tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang beda pada Manda, tidak biasanya seperti ini. Kemudian saya mendekatinya dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk sebenarnya ada apa dengan temanku ini?
Setelah saya mendekatinya dan ngobrol-ngobrol, akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan bahwa temanku ini (klien) sedang mengalami dilemma. Dia takut tidak bisa menjalankan amanah-amanah yang dia pegang sekarang, baik itu dari orang tua (kuliah) maupun dari teman-teman organisasinya.
Saya bisa merasakan bagaimana kecemasan Manda dalam menghadapi persoalan tersebut. Bagaimana kita memanage waktu antara organisasi dan kuliah, bagaimana kita menjalankan semuanya dengan sukses. Itulah sebagian kecemasan dari teman saya. Mungkin untuk lebih konkritnya bisa diperhatikan pada dialog dibawah ini.

(saya) :....saya mendekati teman saya ditaman masjid ” Assalammu’alaikum...”
(Manda) : dengan expressi kaget dia manjawab salam ”Wa’alaikum salam...”
(Saya) : ” sendirian nih? Mana teman-teman yang lain? Tanyaku sambil salaman dengan manda
(Manda) : ”i..iya ...saya sendirian’ jawabnya terbata-bata
(Saya) : “gak kuliah ya?” Tanyaku hati-hati
(Manda) : dia menggeleng kepala

Saya pun mengerti dengan isyaratnya. Geleng kepala berarti tidak

(saya) : “kamu kenapa? Sakit? Atau…??” Kalimatku menggantung
(Manda) : “ saya baik-baik aja kok” jawabnya dengan senyum

Saya tau dia berusaha menutupnya dihadapan saya, dengan menunjukkan senyumnya sebagai tanda dia baik-baik saja.

(saya) : “syukurlah kalo begitu!!!”
“ tapi…saya merasa kamu beda hari ini, biasanya kamu selalu ceria, kenapa?
(Manda) : “saya gak kenapa-napa kok”(jelasnya singkat) saya hanya ingin sendiri aja.”
(saya) : “masak sih…?” Tanya saya dan kemudian saya menatap dia lama hingga akhirnya dia mau menceritakan keluh kesahnya pada saya.
(Manda) : “ sebenarnya saya bingung….apakah saya bisa menjalankan amanah teman-teman? Sekarang saya terpilih menjadi ketua suatu organisasi, padahal sebelumnya saya telah mengundurkan diri di suatu organisasi lain karena saya hanya mau fokus pada satu organisasi dan kuliah saya”.
(Saya) : ”memangnya ada berapa organisasi (lembaga) yang kamu ikuti?”
(Manda) : ” hanya 4 (empat), tapi saya juga memikirkan bagaimana dengan kuliah saya.....itu merupakan amanah dari orang tua. Padahal...saya sekarang telah semester tua.”
(saya) : ”O......begitu”!!!!! sambil tersenyum faham
” Saya dapat memahami rasa cemas anda, namun saya yakin manda bisa memilih yang paling urgent diantara yang urgent”
”Apakah kamu punya keyakinan bisa menjalankan semuanya?”
(Manda) : ”itulah yang menjadi persoalan bagi saya, saya cemas....saya tidak mampu menjalankannya, kasih solusi dong....”
(Saya) : saya tersenyum....:)
Dan sambil meyakininya. ” saya yakin...bahwa manda itu bisa menjalani semuanya....dengan syarat manda harus memperhatikan minimal beberapa hal yang saya sebutkan ini...”
kamu harus bisa memanage waktu dengan sebaik-baiknya
jadikan amanah-amanah tersebut sebagai suatu pembelajaran yang kedepannya sebagai media untuk lebih mendewasakan kamu
jangan jadikan amanah tersebut sebagai beban
senantiasalah berfikir positif dan optimis ( If you thing can, you can)
perhatikanlah kondisi kesehatanmu, karena banyak aktifitas itu harus sehat
banyak-banyak berdoa, agar diberikan Allah kekuatan serta kemudahan dalam segala hal.
(Manda) :“Trimakasih ya….tolong doakan saya …”(pintanya sambil tersenyum…)
(saya) : “iya Insya Allah…saya doakan, saya yakin kamu bisa menjalankannya
Dengan baik dan kamu harus yakin!!!” Sambil menggenggam erat tangannya sebagai motivasi

Dari dialog diatas, saya sebagai konselor ingin melatih empaty saya terhadap klien saya dan kemudian melatih bagaimana meredam kecemasan klien saya terhadap masalah yang di alami klien. Akan tetapi disini yang saya kedepankan adalah bagaimana melatih empati saya sebagai calon konselor.
Dalam mengasah empati, seorang konselor harus dapat merasakan apa yang dirasakan oleh klien. Untuk mencapai tujuan tersebut, latihan empati merupakan latihan terpenting untuk membina kepribadian konselor agar mampu berkomunikasi dengan klien dan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh klien. Konselor harus dapat merasakan apa yang dirasakan, dipikirkan dan dialami klien.
Untuk dapat merasakan apa yang dirasakan, dipikirkan dan dialami klien seorang konselor haruslah berusaha :
Melihat kerangka rujukan dunia-dalam klien (internal frame of reference) atau kehidupan internal klien.
Menempatkan diri kedalam kerangka persepsi internal klien
Merasakan apa yang dirasakan klien
Berfikir bersama klien, bukan berfikir tentang atau klien
Menjadi kaca emosional/ cermin perasaan klien

Bentuk-bentuk latihan empati bagi konselor :
a) Mengkosongkan pikiran : pada latihan ini saya mencoba mengkosongkan pikiran saya dari rasa/sikap egoistik saya, kemudian saya mengamati bahasa tubuh manda (klien saya) dan bahasa verbalnya untuk merasakan kehidupan emosi manda dan berusaha berada di dalam kehidupan klien. Ini bisa dilihat dalam dialog ini “itulah yang menjadi persoalan bagi saya”.
b) Mendengarkan : suatu latihan bagi konselor agar dia sadar akan perasaan dan pemikirannya. Latihan ini saya lakukan bagaimana klien bisa membuat pernyataan yang terbuka dengan jawaban bebas. Tetapi awal-awalnya saya stimulan klien dengan pertanyaan-pertanyaan ringan yang bersifat subyektif hingga akhirnya akhirnya akan terjadi keterbukaan. Contoh :
a. Pertanyaan & pernyataan ringan
(Saya) : ” sendirian nih? Mana teman-teman yang lain? Tanyaku sambil salaman dengan manda
(Manda) : “i..iya ...saya sendirian” jawabnya terbata-bata
(Saya) : “gak kuliah ya?” Tanyaku hati-hati
(Manda) : dia menggeleng kepala

b. Pernyataan lain
(Manda) : “ sebenarnya saya bingung….apakah saya bisa menjalankan amanah teman-teman? Sekarang saya terpilih menjadi ketua suatu organisasi, padahal sebelumnya saya telah mengundurkan diri di suatu organisasi lain karena saya hanya mau fokus pada satu organisasi dan kuliah saya”.

Dari dialog tadi, saya menyimpulkan bahwa untuk menjadi seorang konselor itu tidaklah mudah, tidak hanya sebatas mendengarkan dsb. Akan tetapi kita harus bisa, bagaimana kita memposisikan tidak hanya sebagai pendengar melainkan sebagai penikmat keluh kesahnya sehingga kita dapat menyelami atau merasakan perasaan yang sedang klien alami dan kemudian bagaimana kita memotivasi klien agar dia dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.

(Al-hidayah, 7 mei 2007)

No comments: