Dunia pendidikan kita benar-benar amburadul! Banyak sekali fenomena menyedihkan terjadi pada pendidikan kita. Mulai dari tingkat kelulusan yang sangat memprihatinkan sampai pada guru yang tidak becus mendidik. Mulai dari kualitas yang rendah sampai pada menajemen pendidikan yang parah. Hasilnya, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Ya. Dunia pendidikan kita berlomba-lomba ke jurang kehancuran!
Ungkapan diatas merupakan synopsis dari buku yang pernah saya beli kurang lebih dua tahun silam. Sekilas mungkin kita faham akan statement diatas, tapi jangan yakin dulu, coba tanyakan kepada diri kita masing-masing, apa kita benar-benar faham akan makna yang tersirat dalam statement tersebut atau hanya sekedar faham saja.
Pendidikan memang sangat menarik untuk dibahas, apalagi jika kita merujuk pendidikan yang ada dinegara kita saat ini. Gak usah jauh-jauh, mungkin di lingkungan kita sendiri contohnya, di SD , SMP, SMA/ Madrasah atau bahkan pendidikan dikeluarga dan masyarakat. Yah…itulah pendidikan, cakupannya sangat luas sekali. Tapi disini, kita gak usah panjang lebar, saya hanya ingin mengungkapkan apa yang menjadi tanggung jawab saya sebagai hamba-Nya dan sebagai calon pendidik tentunya.
Kalau kita melihat dunia pendidikan di sekitar kita memang sangat memilukan. Miris sekali rasanya ketika kita harus melihat teman-teman kita atau bahkan saudara kita, adik kita sendiri tawuran, narkoba, dan sebagainya. Konon, Dalam pendidikan banyak hal yang harus diperhatikan diantaranya kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian. Ketiga dimensi tersebut harus saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Ketiga hal ini tidak hanya diimplementasikan di pendidikan formal, akan tetapi di pendidikan non formal pun tetap di implementasikan. Siapa bilang pendidikan dikeluarga tidak butuh kurikulum, hanya saja format kurikulumnya yang sedikit berbeda dari pendidikan formal. Tapi kita gak usah berpanjang-panjang lebar membahas itu, paling tidak kita semua tau bahwa dalam pendidikan itu banyak hal yang harus diperhatikan.
Nah....disini saya hanya menekankan pada aspek guru saja. Karena guru merupakan aspek yang sangat penting bagi pendidikan. Guru “Sosok yang digugu dan ditiru”, entah kapan julukan itu di nobatkan, tapi yang jelas sejak saya mengenyam pendidikan di smp saya sudah sering mendengar julukan itu terhadap guru. Julukan yang gampang-gampang susah, karena seorang guru harus memikul tanggung jawab yang berat terhadap anak didiknya. Kenapa? Karena baik buruknya pendidikan tergantung pada guru, bagaimana seorang guru bisa memanifestasikan dan mengaplikasikan sumbangsihnya ke dalam lembaga formal maupun non formal. Kemudian sosok yang selalu ditiru prilakunya oleh anak didiknya. Kalau disekolah, guru bisa memanifestasikan dengan bantuan metode, strategi, media pembelajaran dan sebagainya. Begitu pula dengan guru di rumah.
Di dunia ini sesungguhnya kita semua adalah guru. Karena seorang guru tidak hanya disekolah saja akan tetapi di rumah dan dimasyarakat pula. Selain kita sebagai guru disekolah kita juga tidak harus menafikan bahwa kita juga sebagai guru dirumah dan masyarakat atau sebaliknya. Orang tua sosok guru bagi anak-anaknya, suami sosok guru bagi keluarganya, saya sosok guru bagi adik-adik saya dan orang-orang yang dekat dengan saya, begitu pula dengan teman-teman semua. Minimal kita menjadi sosok guru bagi diri kita sendiri. Menjadi seorang guru adalah tugas yang mulia, selain mendidik keluarga diri sendiri kita juga dapat mendidik anak-anak lainnya yang butuh pendidikan. (Wisma Ana, 23 april 08)
Ungkapan diatas merupakan synopsis dari buku yang pernah saya beli kurang lebih dua tahun silam. Sekilas mungkin kita faham akan statement diatas, tapi jangan yakin dulu, coba tanyakan kepada diri kita masing-masing, apa kita benar-benar faham akan makna yang tersirat dalam statement tersebut atau hanya sekedar faham saja.
Pendidikan memang sangat menarik untuk dibahas, apalagi jika kita merujuk pendidikan yang ada dinegara kita saat ini. Gak usah jauh-jauh, mungkin di lingkungan kita sendiri contohnya, di SD , SMP, SMA/ Madrasah atau bahkan pendidikan dikeluarga dan masyarakat. Yah…itulah pendidikan, cakupannya sangat luas sekali. Tapi disini, kita gak usah panjang lebar, saya hanya ingin mengungkapkan apa yang menjadi tanggung jawab saya sebagai hamba-Nya dan sebagai calon pendidik tentunya.
Kalau kita melihat dunia pendidikan di sekitar kita memang sangat memilukan. Miris sekali rasanya ketika kita harus melihat teman-teman kita atau bahkan saudara kita, adik kita sendiri tawuran, narkoba, dan sebagainya. Konon, Dalam pendidikan banyak hal yang harus diperhatikan diantaranya kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian. Ketiga dimensi tersebut harus saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Ketiga hal ini tidak hanya diimplementasikan di pendidikan formal, akan tetapi di pendidikan non formal pun tetap di implementasikan. Siapa bilang pendidikan dikeluarga tidak butuh kurikulum, hanya saja format kurikulumnya yang sedikit berbeda dari pendidikan formal. Tapi kita gak usah berpanjang-panjang lebar membahas itu, paling tidak kita semua tau bahwa dalam pendidikan itu banyak hal yang harus diperhatikan.
Nah....disini saya hanya menekankan pada aspek guru saja. Karena guru merupakan aspek yang sangat penting bagi pendidikan. Guru “Sosok yang digugu dan ditiru”, entah kapan julukan itu di nobatkan, tapi yang jelas sejak saya mengenyam pendidikan di smp saya sudah sering mendengar julukan itu terhadap guru. Julukan yang gampang-gampang susah, karena seorang guru harus memikul tanggung jawab yang berat terhadap anak didiknya. Kenapa? Karena baik buruknya pendidikan tergantung pada guru, bagaimana seorang guru bisa memanifestasikan dan mengaplikasikan sumbangsihnya ke dalam lembaga formal maupun non formal. Kemudian sosok yang selalu ditiru prilakunya oleh anak didiknya. Kalau disekolah, guru bisa memanifestasikan dengan bantuan metode, strategi, media pembelajaran dan sebagainya. Begitu pula dengan guru di rumah.
Di dunia ini sesungguhnya kita semua adalah guru. Karena seorang guru tidak hanya disekolah saja akan tetapi di rumah dan dimasyarakat pula. Selain kita sebagai guru disekolah kita juga tidak harus menafikan bahwa kita juga sebagai guru dirumah dan masyarakat atau sebaliknya. Orang tua sosok guru bagi anak-anaknya, suami sosok guru bagi keluarganya, saya sosok guru bagi adik-adik saya dan orang-orang yang dekat dengan saya, begitu pula dengan teman-teman semua. Minimal kita menjadi sosok guru bagi diri kita sendiri. Menjadi seorang guru adalah tugas yang mulia, selain mendidik keluarga diri sendiri kita juga dapat mendidik anak-anak lainnya yang butuh pendidikan. (Wisma Ana, 23 april 08)

No comments:
Post a Comment