Ketika Pagi….
(Part One)
Pagi itu, suasana dingin pun menggelayuti seluruh ruang di rumah itu, tak sedingin di kutub utara memang, tetapi dinginnya cukup untuk bermain-main mesra dengan selimut. Ketika fajar mulai menyingsing, segera kubangkit dan kuambil tampah yang berisi bungkusan-bungkusan kecil. Matahari telah menyembul rupanya, pagi ini aku kesiangan lagi, dan tidak bisa sarapan lagi kalo kesekolah. Oh nasibku…..
Kususuri gang demi gang, ku hampiri tiap-tiap rumah, ku sapa manusia yang terlihat olehku, demi menjajaki bungkusan-bungkusan kecil yang ada ditampah sebelah kiri pinggangku.
Nak…..ikannya agik ade dak?
Agik ade mak cik, tinggal due bungkus agik.
o….sini pun makcik coba liat dulu
Aku pun segera menghampiri wanita baya itu, berharap dua bungkus ikan ini laku semua dibeli oleh wanita ini yang kerap kupanggil mak cik.
Sebungkus’e berape fa?
Ehm….due ribu lime ratus rupiah makcik
Misal makcik beli due bungkus, bise dak 4 ribu?
Cemane makcik ok? Kelak ifa dimarah kek emak” ungkapku polos
Aoklah, empat ribu lime ratus bi ok?
Aoklah makcik dak ape2.
Alhamdulillah….akhirnya bungkusan-bungkusan ikan yang ku bawa sekitar 15 bungkus habis juga.
Tak terasa aku telah menyusuri jalan yang cukup jauh dari rumahku, segera kususuri jalan pintas menuju rumahku, dan berharap hari ini aku tak lagi kalah dengan bunyi lonceng masuk. Saat itu, aku masih kecil memang, usiaku masih 7 tahun, tapi aku tak seperti anak-anak lainnya, kehidupanku cukup keras dibandingkan teman-teman lainnya. Walaupun rumahku dekat sekali dengan sekolah, tapi jarang sekali aku bisa mengalahkan bunyi lonceng masuk. Tak jarang aku tak sarapan ketika berangkat sekolah. Tiap pagi aku berpacu dengan waktu, menyusuri gang demi gang, berteman setia dengan bungkusan-bungkusan ikan yang amis sekali dan berkompetisi dengan bunyi lonceng masuk. Itulah aku, gadis kecil yang biasa dipanggil dengan ifa, saat itu duduk dibangku kelas 3 SD.
* * *
Suatu hari, ada suatu tragedi dikelasku, yang sampai saat ini masih membekas dihatiku dan selalu terbayang-bayang. Saat itu, ketika lonceng masuk berbunyi, biasanya ada baris berbaris didepan kelas sebelum masuk ke kelas, ada teman kelas laki-laki yang nakal sekali dikelas itu, namanya andre wijaya, biasa kita panggil andre, dia suka mengajak teman-teman cowok berkelahi dan suka mengganggu teman-teman cewek. Ketika berbaris itu dia mencoba mengganggu ku tapi walaupun badanku lebih kecil dari dia aku tidak takut dengan dia dan aku lawan dengan ancaman, mendengar ancamanku dia langsung menghantamkan kepalan tangannya tepat di wajahku. Sakitnya bukan main, baru kali ini aku merasakan di tonjok, kontan aku pun langsung menjatuhkan kepalan tangan kecilku juga ke wajahnya. Berharap dia juga merasakan apa yang kurasakan. Tapi perkiraanku salah, dia sama sekali kulihat tidak merasakan kesakitan. Malah, tanganku yang sakit. Tetapi dia memandang sinis kearahku dan berlalu pergi. Aku tak tau maksudnya apa, yang jelas saat itu, aku mencoba menunjukkan bahwa aku tidak takut dengan dia.
Tak cukup sampai disitu, ketika jam pelajaran olahraga, kita selalu diajak bermain bola kasti dilapangan bola. Saat permainan, aku selalu bermusuhan dengan andre, aku tau setiap aku yang membawakan bola, aku selalu diincar untuk dilemparnya bola. Beberapa kali bola yang dilemparkan keras oleh andre bisa ku elakkan dan sesekali meleset. Tapi satu kali pernah bola hinggap di pipi kiriku, kontan aku langsung menangis karena kesakitan, permainan pun akhirnya berakhir karena tangisku, bukan apa-apa aku menangis, kebetulan bola yang mengenai pipiku itu tepat mengenai gigi ku yang lagi sakit. Tapi yang melempar bola itu bukan si andre, melainkan teman yang menjaga dibelakang sipelempar bola, namanya Redi. Kulirik redi dari kejauhan, wajahnya tampak ketakutan, dan merasa bersalah. Aku tau Redi melakukannya tidak ada unsur kesengajaan, berbeda dengan si Andre tampak sekali tersirat senyum kebahagiaan di wajahnya melihatku menangis kesakitan.
* * *
Hore…hore…teriak sorak sorai siswa kelas tiga SD Negeri 8 Air Belo, sebagian siswa tampak bahagia melihat buku berwarna merah alias raport ditangan masing-masing. Tak terkecuali aku, di tahun yang ketiga ini tepatnya cawu ke dua, aku naik tingkat empat, tapi…..ada sedikit kecewa menggelayuti hatiku, peringkatku menurun, di cawu dua kemarin aku berhasil menduduki peringkat pertama, tapi di cawu ketiga ini, aku cuma berhasil menduduki peringkat kedua. Sedih rasanya tak bisa mempertahankannya, tapi apa boleh dikata, peringkat pertama tak berpihak kepadaku, peringkat kedua juga alhamdulillah.
Oh ya, setelah pembagian raport aku tidak melihat hidungnya andre, tumben dia tidak ada, biasanya dia selalu godain teman-teman cewek atau adek kelas cewek, mungkin dia sudah pulang ya.
Wednesday, April 22, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment